WIT: Nourma Jennie — Frontend Developer and IT Project Manager at Kulina

Interviewed by: Audley

Audley: Boleh tanya tidak asal kak Jennie dari mana sih?

Jennie: Dari Jogja aku. Dari aku lahir kebetulan orang tua tinggal di Jogja. Lalu sekolah sampai kuliah juga di Jogja.

Audley: Kak Jennie itu lulusan UGM ya kak? Ambil jurusan apa kak? Boleh minta diceritain tidak perjalanan dan alasan dalam memilih jurusan kak Jennie dan diterima di jurusannya?

Jennie: Iya UGM, ambil jurusannya Ilmu Komputer. Dulu sih pengennya DKV ITB karena suka gambar dan desain dari SMA. Tetapi karena tidak ada keluarga di Bandung jadi belum boleh ngekos sendiri di Bandung. Terus milihnya Ilmu Komputer karena itu dulu seru. Akhirnya daftar undangan di Ilmu Komputer UGM dan keterima. Dulu pilihan keduanya teknik industri sih.

Audley: berarti bisa dibilang melalui jalur SNMPTN ya kak? Perjuangannya bisa masuk ilkom gimana tuh kak?

Jennie: Iya. Beruntung sih itu. Dulu jamanku slot jalur undangan lumayan banyak. Terus di SMA ku (SMA 8 Jogja) juga hitungannya SMA favorit jadi slotnya banyak hehehe. Kalau perjuangannya, dari SMA memang kerjaanku hanya sekolah-pulang sekolah-pulang. Tidak ikut banyak organisasi karena emang lebih suka di rumah, nggak sibuk. Ekskulnya hanya jurnalistik. Terus ikut kepanitiaan hanya beberapa kali aja.

Audley: Kemudian di Ilmu Komputer kak Jennie aktif di mana aja nih kak?

Jennie: Kalau di Ilmu Komputer aku aktif di OmahTI. Jadi itu adalah organisasi yang dibagi menjadi beberapa divisi seperti Mobile Apps, Web Design, Data, dll. Nah itu isinya pelatihan rutin sesuai divisinya. Dulu semester 1–2 aku ikut Web Design. Semester 3–4 aku jadi pengurus hariannya OmahTI di bagian Kesekretariatan.

Audley: Suka dukanya di Ilmu Komputer menurut kak Jennie gimana?

Jennie: Awal-awal banyak dukanya karena tidak paham tentang koding dan pelajarannya abstrak. Kayak nggak tau itu buat apa. Karena kalau di ilkomp lebih banyak Matematikanya. Sukanya saat mulai semester 4/5 sudah paham dari ilkomp bisa bikin apa aja. Terus jadi tertarik buat belajar karena keren bisa bikin macem-macem yang bisa bantu banyak orang.

Audley: Kalau menurut kakak, skill-skill apa aja yang harus dimiliki seseorang atau apa yang harus diingat kalau mau maksimal atau selesai studi di Ilmu Komputer?

Jennie: Sebelum memilih jurusan, coba pastiin dulu kira-kira yang dipelajari di jurusan yang mau dipilih apa. Yang perlu diingat adalah: “kuliah di jurusan apa aja pasti ada susahnya”, sama seperti konsepnya kerja. “Kerja dimana saja ada susah dan enaknya”. Jadi kalau di tengah jalan bingung, nggak tau itu matkul apa dan buat apa wajar kok. Kalau sudah masuk kuliah ya jalanin aja, coba cari celah dimana yang disuka.

Kalau di ilkomp khususnya, yang perlu itu sifat tidak mudah menyerah, tekun, dan belajarnya benar-benar deep supaya paham konsepnya dan kenapanya. Karena di ilkomp juga luas, coba cari topik atau penjurusan yang benar-benar mau dipelajari lebih dalam. Di ilkomp ataupun jurusan IT itu perkembangannya cepet, jadi kalau tidak fokus di satu scope nantinya bisa keteteran.

Audley: Nah sekarang masuk ke karir nih kak Jennie. Sekarang kak Jennie bekerja di mana dan role nya bagaimana?

Jennie: Kalau pekerjaan, sekarang di Kulina. Masuk Kulina itu dari Juni 2018. Itu jadi frontend developer. Kulina itu startup yang bergerak di bidang pemesanan makanan secara online. Terus di kulina itu ada dapur-dapur mitranya. Ada yang productnya memang dibikin Kulina (nanti dapurnya tinggal masak sesuai menu itu) atau productnya dari dapur mitranya sendiri.

Untuk rolenya itu dari 2018 hingga Desember 2019 kemarin jadi frontend developer. Tugasnya frontend itu bikin tampilan web dan interkasi-interaksi di dalamnya dari desain yang sudah ada. Terus mulai Januari 2020 sampai sekarang, roleku jadi IT project manager. Itu tugasnya membuat timeline, kolaborasi sama tim product, manage programmer dan bagi-bagi tugas ke para programmer, sambil memastikan semua sesuai timeline.

Audley: Membicarakan tentang frontend developer nih kak. Frontend developer membutuhkan kemampuan coding juga kan kak, nah kalau kakak ini spesifik ahli di bahasa pemrograman yang mana kak? Preparingnya gimana kak?

Jennie: Bahasa pemrogramannya aku pakai JavaScript sih. Kalau preparingnya aku dari kuliah, jadi buat yang emang mau kuliah di ilkomp/IT bisa mulai magang atau proyekan pas kuliah. Soalnya sekarang saingannya banyak dan biasanya startup mencari freshgrad itu yang paling tidak ada pengalaman proyek, lomba, atau magang gitu pas kuliah.

Audley: Kemudian personally bagi kak Jennie, role mana yang lebih enjoyable dan alasannya mengapa?

Jennie: Kalau aku personally lebih suka jadi programmer karena bisa bikin sesuatu sampai jadi. Kalau project manager lebih banyak managenya dan pengetahuannya itu hanya general seluruh bahasa pemrograman yang dipake di Kulina. Tidak lebih dalam. Nah kalau programmer kan fokus di bahasa pemrograman yang memang dia pakai.

Audley: Wahh, lalu rencana kak Jennie ke depannya gimana nih kak?

Jennie: Kalau plannya sih masih akan lanjut sampai benar-benar yakin memang mau balik frontend lagi. Aku juga masih akan mencoba belajar di project management juga karena masih 7 bulan pengalamannya. Pasti masih banyak yang belum diexplore.

Audley: Mungkin untuk teman-teman Girls Learn Code yang tertarik dengan bidang front end atau project manager, ada saran tidak kak?

Jennie: Frontend dan project management sama-sama butuh telaten sih. Jadi, kalau misalnya kamu mau jadi FE/PM, siapin diri juga untuk telaten. FE telaten bikin UI yang rapi dan responsive untuk semua versi web dan resolusi gadget. PM telaten untuk detailin task dan follow up ke orang-orang. Lalu mungkin untuk FE/developer sarannya sih jangan malas untuk belajar, apalagi yang basic-basic dulu. Kalau bisa kuasai yang basic/fundamental, baru framework atau teknologi-teknologi baru. Supaya mudah juga kalau sudah paham fundamentalnya.

Audley: Presentase perempuan yang berkarir di ranah IT, menurut data relative lebih rendah daripada pria. Menurut kak Jennie mengapa begitu?

Jennie: Mungkin karena masih banyak perempuan yang minder dengan kemampuannya dibandingkan dengan kemampuan laki-laki kalau di bidang IT. Bisa jadi juga takut salah. Padahal sebenernya banyak perempuan yang kemampuannya sama dengan laki-laki, atau mungkin lebih hebat. In the end, developer juga bisa bikin produk yang bagus karena kolaborasi/kerja bersama. Jadi harusnya developer perempuan juga bisa bersama-sama dengan developer lain untuk membuat suatu produk yang bagus.

Audley: Kemudian menurut kakak apakah lingkungan kerja perusahaan IT di Indonesia sudah friendly terhadap perempuan?

Jennie: Kalau di startup menurutku sudah cukup friendly sih. Beberapa startup juga memperbolahkan perempuan cuti sebulan sekali kalo memang dismenore (nyeri haid). Lalu biasanya developer dapat jatah remote per bulan atau per minggu. Selain itu, sekarang banyak juga perempuan yang kemudian jadi CEO atau manage orang banyak dan mereka berhasil.

Audley: Berdasarkan pengalaman kakak, bagaimana perempuan dapat dan telah membawa dampak terhadap IT? Dan pesan untuk para perempuan muda yang hendak berkarir di IT ?

Jennie: Kalau dari pengalaman, teman-teman developer yang perempuan juga banyak yang tidak kalah hebat menurutku. Beberapa kali aku ketemu developer perempuan yang hebat, tidak kalah skillnya sama yang lelaki. Lebih kritis dan lebih telaten.

Untuk pesannya sih, mungkin jangan minder sama skill. Kita bisa kalau mau belajar lebih. Karena lelaki-lelaki juga belajar lebih ketika mereka mau upgrade skill. Terus juga bersabar sama prosesnya sih. Karena kalau di IT memang harus sabar saat belajar jadi jangan keburu-buru mau belajar ini itu dalam waktu cepat karena semua memang butuh proses.

Audley: Sedikit kita kilas balik nih, hal atau skill yang kakak harap kakak bisa pelajari lebih dalam lagi jika kakak dapat mengulang waktu?

Jennie: Dasar-dasar pemrograman pas kuliah sih. Jadi belajar algoritma sorting, searching, dan lain-lain. Pengen lebih banyak coba solve case-case logic di programming juga.

Audley: Menurut kakak apakah kita dapat belajar koding sendiri tanpa pergi ke universitas?

Jennie: Bisa banget. Banyak resource di internet yang free maupun berbayar. Bisa mulai dari w3school atau dokumentasi dari framework yang mau dipelajari. Sekarang bahkan dokumentasi sudah ada videonya juga. Orang-orang biasanya banyak yang sharing karena komunitas di IT ada di mana-mana

Audley: Ada tips tambahan untuk pemula?

Jennie: Setelah kita tentuin mau belajar apa, coba belajar dari basic dulu, dari yang mudah. Nah dokumentasi biasanya diurutin dari yang simple ke yang advance. Terus sebelum belajar, planning dulu. Bikin jadwal rutin, misalnya sehari 1 jam. Nah coba stick to the rule 1 jam. Kalau ternyata 1 jam itu benar-benar tidak bisa, coba setengah jam per hari. Tipsnya sih selalu mulai dari yang mudah dulu, dan jangan buru-buru ke yang advance. Terus coba pakai resourcenya 2/3 aja, jangan kebanyakan juga. Selain itu, coba remove distraksi. Dan yang terakhir, di praktekin. Coba bikin sesuatu, yang sederhana dan tidak bagus dulu juga tidak apa-apa.

Audley: Kak Jennie selain sibuk bekerja apakah punya hobi lainnya yang mungkin mau dishare?

Jennie: Gambar dan masak sih kalau aku. Karena memang aku suka sesuatu yang bikin sendiri pakai tangan, jadi hal-hal seperti gambar atau masak bisa jadi hiburan banget. Visually pleasant pula. Biasanya kulakuin memang pas weekend. Karena emang aku anaknya tidak suka main di luar lama-lama, lebih betah di rumah jadi ya yang bisa dikerjain di rumah aku suka-suka aja.

Get the Medium app

A button that says 'Download on the App Store', and if clicked it will lead you to the iOS App store
A button that says 'Get it on, Google Play', and if clicked it will lead you to the Google Play store